Plus Jakarta Sans

Open-source Fonts for Jakarta City of Collaboration

Styles


ExtraLight


Light


Regular


Medium


SemiBold


Bold


ExtraBold



Kelapa Gading

Cempaka Putih

Pondok Indah

Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan.

Kita akan selalu berpikir kalau ada sesuatu yang salah dengan kita; dan mungkin saja memang ada. Tapi, terus kenapa?

Penyelesaian proyek LRT ini menuai banyak kritikan, mulai dari pengerjaan yang serampangan, spesifikasi kereta yang berbeda-beda, waktu uji coba yang terlalu terburu- buru dan diundur beberapa kali. Namun, keberadaan LRT tetap menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, terutama para pekerja yang bertempat tinggal di Bekasi dan Cibubur. Hal ini dikarenakan banyak pekerja di Jakarta yang sudah lelah dengan kemacetan dan ke- ruwetan jalanan di ibukota.

Ekspresi dari berbagai wajah di tiap sudut ibu kota menjadi pelengkap dalam cerita kehidupan kota ini. Namun, hanya segelintir saja yang mampu menarasikan ekspresinya dalam sebuah karya. Salah satu seniman visual art, Adi Dharma dengan trademark Stereoflow, mengabdikan diri untuk menghias wajah Jakarta. Adi memberi warna baru pada Taman Menteng, Jakarta Pusat dengan muralnya. Mengusung tema “Gelora Ragam”, Adi memiliki visi untuk menyatukan berbagai energi kolaborasi antardiri. Pemilihan lokasi Taman Menteng ini pun bukan tanpa alasan. Adi menilai Taman Menteng memiliki lokasi yang strategis dan terpusat. Dengan demikian, mural di Taman Menteng ini bisa menjadi simbol pusat keberagaman warga di Jakarta. “Ini tentang bagaimana kami mengangkat motivasi agar warga tetap bersinergi, melalui karya seni berdasarkan ekspresi kota yang penuh kolaborasi ini,” ujar Adi. Adi menyelesaikan pengerjaan mural dalam dua minggu. Dengan berbagai rintangan yang ada, mural tersebut dapat diselesaikan dengan baik. “Untuk ups and downs dari pembuatan mural ini bisa dibilang cukup unik. Kami mengerjakannya di tengah cuaca Jakarta yang pada saat itu sedang tidak menentu. Enggak bisa diprediksi, kapan hujan dan kapan cerahnya. "Bahkan pernah kita tiga hari berturut-turut enggak ngelakuin apa-apa, cuman nunggu kapan hujan berhenti. Atau momen kayak jagain mural biar catnya enggak luber atau rusak,” terang Adi. Ia juga menerangkan beberapa cerita seperti momen viralnya pengerjaan mural ini di media sosial. “Waktu itu sempet, sih, lagi buka Twitter, terus ramai warganet tentang pengerjaan mural dan instalasi seni di Jakarta ini. Nimbulin pro dan kontra, dan menganggap kalau pengerjaan mural seperti ini membuang-buang anggaran daerah," ungkapnya. Adi menyebut bahwa proyek mural ini sepeserpun tidak menggunakan anggaran daerah. Dana yang dipakai dari uang pribadi dan sponsor. "Kami pakai uang pribadi kami, kalaupun dapat suntikan dana, ya melalui sponsorship. Pemprov DKI di sini hanya menjembatani saja,” ujar Adi sembari mengingat momen unik di balik pengerjaan karya muralnya. Ia berharap mural "Gelora Ragam" ini dapat meningkatkan kesadaran warga akan peran penting seni dalam tata kota, khususnya pada ruang terbuka hijau, agar kota tampak nyaman dan menawan. Kolaborasi yang dilakukan Adi menjadi contoh nyata menyatunya beberapa elemen dan aspek dalam satu wadah kreatifitas warga. “Karena menurut kami, lewat kolaborasi kita bisa keluar dari zona nyaman untuk belajar ilmu-ilmu baru di luar ‘kotak' kita, dan bisa menghasilkan sesuatu dari beberapa cabang ilmu tersebut,” ungkap Adi. Bagi Adi, percaya diri dan konsistensi, serta tidak melulu protes pada proses adalah kunci dari keberhasilan sebuah kolaborasi. Karena dengan cara tersebut, publisitas karya akan lebih tersebar luas di khalayak. Because everything is connecting. (fik)